Manfaat dan Tips Membuat Anak Gemar Membaca


Baby doyan buku, masaaaaaa sih... eh beneran lho. Adek Khai doyan sama buku. Kalau Mbak Nai udah pegang buku, Adek Khai bisa tertawa riang gitu, nggak sabar pengen dibacain buku sama Mbak Nai. Lha, emang Mbak Nai udah bisa baca? Hahaha... beloooooom... baca gambar maksudnyah temans. Jadi, dia cerita ngarang sendiri. Adek Khai seneeeeeeng banget.

Adek Khai menyimak Mbak Nai dengan serius
Banyak ortu sekarang yang mengeluh bahwa anaknya nggak suka membaca, lebih suka bermain or menghabiskan waktunya untuk menonton TV. Padahal, kebiasaan membaca itu seharusnya sudah dilatih sejak dini kepada anak. Mulai dari usia di bawah 1 tahun, Perkenalkan anak dengan buku, kenapa tidak?, Takut buku-bukunya disobek atau anak memasukkannya ke dalam mulut?, jangan khawatir, sekarang ada buku untuk anak-anak yang terbuat dari kain. Lagipula, ibu juga bisa mengenalkan buku kepada anak semenjak dini, dengan rajin membacakannya cerita.




Selain itu, hendaknya ortu bisa menjadi model bagi anak, jangan sampai kita "berkoar-koar" agar anak gemar membaca, sementara kita sendiri enggan untuk membaca. Dengan dalih sudah tidak duduk di bangku sekolah atau perkuliahan lagi, atau tidak punya waktu, apalagi kalau berkata bahwa buku-buku mahal (mengurangi uang belanja). Apabila di daerah tempat kita tinggal ada perpustakaan atau taman bacaan, jangan sungkan untuk mengunjunginya. Jadi kan sebagai salah satu agenda untuk kita mengunjunginya bersama anak-anak, buat kartu anggota agar kita bisa meminjam buku di sana. Atau, jangan lewatkan bazar-bazar buku murah yang sering diadakan oleh toko buku.

Laporan oleh commission on reading (komite membaca) di negara AS yang merangkum dari berbagai macam riset tentang membaca. Di antara penemuannya, terdapat dua pernyataan sederhana : 
  • Aktivitas yang paling utama untuk membangun pengetahuan yang dibutuhkan untuk berhasil dalam membaca adalah membacakan buku kepada anak-anak. 
  • Membacakan buku adalah suatu praktik yang harus dilanjutkan di seluruh tingkatan kelas. Komisi ini menemukan bukti konklusif yang mendukung membacakan buku bukan hanya di rumah tapi juga di dalam ruang kelas.

Mengapa sesuatu yang sederhana seperti membacakan buku kepada anak menjadi hal yang efektif?.

Semuanya berhubungan dengan otak. Kata-kata adalah struktur utama untuk pembelajaran. Hanya ada dua cara efisien memasukkan kata-kata ke dalam benak seseorang, melalui mata atau melalui telinga. Maka untuk anak yang berada di usia dini, sumber terbaik bagi ide dan pembangunan otak adalah telinga. Apa yang kita kirim ke dalam telinga menjadi pondasi kuat bagi seluruh otak si anak. Suara-suara penuh arti yang ditangkap telinga akan membantu anak memahami kata-kata yang dia dapat melalui mata saat ia nanti belajar membaca. Maka tidak heran ketika ada seorang santri yang buta namun hafizd qur’an hanya mempelajari dengan cara mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an baik lewat gurunya maupun lewat rekaman kaset saja.

Membacakan buku kepada anak, sebenarnya sama alasannya seperti kita berbicara kepada anak, yaitu untuk memberikan kepastian, menghibur, menjalin ikatan, membangkitkan rasa ingin tahu, memberi inspirasi. Tetapi ketika kita membaca lantang, kita juga : 
  • Mengondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, 
  • Menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, 
  • Membangun kosakata, dan 
  • Memberikan sosok panutan yang gemar membaca.
Apa manfaat menumbuhkan kegemaran membaca kepada anak-anak kita semenjak dini?.

Sekurangnya ada dua manfaat besar menumbuhkan kegemaran membaca kepada anak-anak kita semenjak dini : 
  • Merangsang terjadinya lompatan kecerdasan. Hal ini terjadi kepada seorang anak yang bernama Jenifer. Terlahir ”tidak normal” dan dinyatakan positif menderita down sydrome-suatu jenis keterbelakangan mental yang ditandai oleh rendahnya IQ, sehingga tidak memungkinkan seseorang hidup secara wajar. Tetapi apa yang dilakukan oleh Marcia Thomas sang ibu? Terapi. Marcia memberikan terapi kepada anaknya agar otaknya memperoleh rangsangan yang sangat kaya, sehingga kecerdasannya meningkat dan fungsi-fungsi indranya bekerja lebih aktif. Marcia berusaha menjalankan proses terapi itu dengan membacakan sebelas buku setiap hari kepada buah hatinya yang masih bayi tersebut. Hasilnya, IQ jenifer melonjak tajam ketika dites pada usia 4 tahun. IQ-nya 111. Salah satu penjelasan mengapa mengajarkan membaca pada bayi dapat melejitkan IQ adalah karena membaca merupakan kegiatan yang memberikan rangsangan paling kompleks bagi otak dibandingkan dengan beberapa kegiatan lainnya, seperti melihat televisi. 
  • Mematangkan emosi dan kepribadian. Menurut Paul C. Burns, betty D. Roe & Elinor P. Ross dalam Teaching Reading in Today’s Elementary Schools, ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca. Kedelapan aspek itu meliputi sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Semuanya bekerja secara berbarengan saat kita membaca. Manfaat pembelajaran membaca sejak dini, anak menjadi terbiasa berpikir dan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki untuk memahami dan menghadapi tantangan. Karena dengan aktivitas membaca, melatih mereka untuk lebih stabil dan matang, bukankah untuk memahami keseluruhan isi bacaan  harus membacanya dengan baik. Agar bisa membaca dengan baik, kita harus belajar mengendalikan diri, memusatkan perhatian, menghayati dengan perasaan, dan memahami makna tiap kata.
Memilih bacaan yang tepat untuk anak

Hal terpenting adalah bagaimana kita memilih buku bacaan yang tepat untuk anak, yang mengandung nilai-nilai positif. Sehingga otanya tidak menyimpan “bahan-bahan” berbahaya yang akan mencemari pola pikirnya kelak. Banyak buku yang bisa dibacakan, yang paling utama adalah Al-Qur’an.

Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang.

Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat. Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak. Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya.

Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar.

Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak. Memang bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu. Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir.

la telah mulai bekerja yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas. Umumnya pendengaran lebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Dalam kaitan upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogyanya bayi sudah diperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak dalam rahim. Jadi, bila ada anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al-Qur’an menjelang bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi. Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.

Selanjutnya, yang layak untuk direkomendasikan adalah buku-buku bacaan islami untuk anak yang berupa kisah para nabi, tentang anak sholeh, mahluk hidup dan alam semesta, juga benda-benda yang ada di sekitar anak. Terlebih apabila ada gambar yang akan lebih menarik sang anak dan merangsang keingintahuannya.


Pisang Karamel Ala Ummi




Ceritanya, ada pisang nganggur, nggak nyampe 1 sisir sih, tapi masih belom mateng, mengkal gitu. Nggak sabar nunggu pisangnya meteng, akhirnya pisang mengkal itu dieksekusi deh, butuh camilan soalnyah :D

Bingung juga mau diapain. Awalnya, pengen digoreng tepung, trus ditopping parutan coklat en keju. Tapi, tepungnya abis. Akhirnya, nobain bikin pisang karamel ala Ummi. Pan, pisangnya mengkal, nggak manis, jadi sepertinya cocok.

Caranya, pisang dikupas, belah 2, lalu potong 2. Jadi, 1 pisang dapetnya 4 bagian. Masak dengan gula yang diberi sedikit air, sampai warnanya kecoklatan. Jadi deh, terakhir tinggal parut coklat en kejunya sebagai topping. Enyaaaaaak :D *apalagi pas lafeeeer


Memaknai Kelulusan dengan Alhamdulillah...

Saya orang yang amat sangat suka belajar. Semangat saya begitu tinggi untuk sekolah. Terbukti, prestasi saya sejak Sekolah Dasar (SD) selalu membanggakan orang tua, nusa bangsa, dan agama *Halaaaaah :D
Gitu juga pas SMP dan SMA, sampai kuliah. Terbukti, saya berhasil menyelesaikan S1 dalam waktu 3,5 tahun saja, dengan menyabet predikat cumlaude.

Tak puas, saya lalu melanjutkan S2. Berharap bahwa saya bisa mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang dosen. Daaan ternyata, saya berhasil jadi dosen walaupun sedang dalam masa pendidikan. Allah memang Maha baik. Walaupun, tidak sedikit juga kerikil, duri, paku, pohon tumbang, yang menghalangi langkah saya *berasa nemu penghalang di jalan
cerita tentang kelulusan S2 saya ada di sini.

Dulu sih, pengennya pas usia 30 tahun, saya udah kelar S3 hihihi... Tapi, sepertinya nggak kesampaian, di usia yang hampir 29 tahun ini, saya belum juga bisa melanjutkan S3. Hmmmmm... ngalah, sepertinya nanti suami saya aja deh yang duluan. Karena, saya udah nggak ngajar lagi sejak anak pertama saya lahir.

Bayi imut yang dilahirkan dengan penuh perjuangan itu, mengubah semua proposal hidup saya. Saya memutuskan untuk resign. Setelah usia Nai (anak sulung saya) 2 tahun, baru deh saya coba-coba bikin usaha yang nggak mengharuskan saya meninggalkannya, karena saya tak ingin menyerahkan pengasuhannya kepada orang lain. Plus, saya juga mulai menekuni dunia tulis menulis yang sudah saya cintai sejak SMP.

Alhamdulillah... setidaknya, sekalipun di rumah, pikiran saya nggak mandeg dan ilmu saya juga dapat saya transfer lewat buku, walaupun baru terbitin buku manajemen 1, sedang proses 1, moga nyusul buku-buku manajemen berikutnya. Maklum saja, saya masih penulis labil, nggak segmented, penasaran dengan kemampuan dan senang mencoba tema-tema yang lain. Apalagi, punya anak kecil, yang saya prioritaskan banget dibandingkan kegiatan lainnya. Jadi, kalo nulis lamaaaaaa :D

Nah, bagaimana sih saya memaknai kelulusan S2 saya, bikin poin aja yak biar saya nggak ngalor-ngidul :D
  • Bersyukur atas apapun yang Allah beri. Namanya manusia, cuma bisa berdoa, berencana, berdoa, berusaha, berdoa, tapi Allah yang tentukan jalannya. Yang penting tetap semangat untuk selalu belajar. Bukankah banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sekitar. Kita bisa berguru dan belajar dari mana saja, asal ada kemauan untuk menjadikan diri lebih baik lagi.
  • Setelah selesai S2, saya merasa diri saya ternyata masih "bodoh". Semakin banyak mendapatkan ilmu, semakin merasa bahwa diri ini kekurangan ilmu. Jadi, tak ada yang bisa dan hendak saya sombongkan.
  • Ini nih yang dulu bikin saya berusaha keras buat move on, saat sekitar menyayangkan keputusan saya untuk tidak mengajar lagi. Padahal, menurut saya, saya bisa mengajar nanti, kapan saja, saat Allah memberikan saya kesempatan. Tapi, untuk mengasuh anak-anak saya yang masih sangat kecil, tidak bisa dilakukan kapan pun, karena masa kecilnya tak bisa diulang. Dalam mengasuh si kecil, saya bahkan merasa tidak ada apa-apanya. Ilmu saya amat sangat minim. Daaaaan, menjadi ibu ternyata lebih sulit dibandingkan mengerjakan tugas atau tesis :D. Saat gagal dalam mengerjakan tugas atau tesis, saya bisa mengulang. Tapi saat anak tumbuh tak sesuai dengan harapan... ntahlah, tak sanggup untuk saya ungkapkan. Untuk mendapatkan predikat cumlaude, rasanya lebih mudah dibandingkan mendapatkan predikat Ummi yang baik. Tapi begitulah, kembali kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk melakukan yang terbaik, jangan berhenti untuk belajar. Bersyukur saya pernah kuliah dan berbaur dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Sehingga, pola pikir saya menjadi lebih baik, pikiran saya menjadi semakin terbuka, dan selalu menghargai pilihan hidup orang lain.
http://keinatralala.wordpress.com/2014/10/23/keina-tralala-first-birthday-giveaway/



Tanda Tangan

Yang paling nyebelin ituh pas jadi pembicara di sebuah seminar, adalah tanda tangan sertifikat buat peserta dan panitia acara. Berapa banyak? Ratusaaaaan :D *berasa iklan
Manual lagi, iyah... manual. Enak kalo pake stempel or by print gitu. Tapi nggak papa, itung-itung belajar jadi artis. Siapin tukang pijet ajah buat pijet jari-jari tangan hahaha... *lebay  karna ini belum termasuk buat tanda tangan buku.

Nyesel deh punya tanda tangan yang puanjaaaang, seperti puaaanjangnya nama saya. Sampe-sampe nih, pas ujian, saya masih sibuk aja ngelingkari nama, teman-teman udah ngerjain soalnya. Sayangnya, nggak afdol ajah rasanya kalo cuma paraf gitu *pan yang diminta tanda tangan yak. Mau merevisi tanda tangan, udah telaaaaat keuleeeees... :D

Hmmmm... inih bukan pengelaman pertama sih, buat tanda tangan segambreng. Sebelumnya saya juga udah sering banget tanda tangan *bukan dokumen buat kreditan pemirsah! :D
Tanda tangan buat balik nama surat tanah, perumahan yang ratusan (developer)

So, saya sengaja kasih nama anak nggak panjang-panjang, trus ntar nyuruh mereka bikin tanda tangan yang nggak panjang-panjang juga *Lietin anak yang masih berumur 5 tahun dan 4 bulan :D


Eggless Chocolate Cup Cake

 Biasanya Nai doyan ditaburi keju
Tapi, kali ini pake kembang gula warna-warni

Nah, karena cara buatnya gampang dan nggak butuh waktu lama. Nai sering nih minta dibawain eggless chocolate ini. Nggak masalah kalau persediaan telur di lemari es aka kulkas habis, karena cake ini sama sekali nggak pake telur. O yah, resepnya ada di sini yah. Kali ini saya bikinnya pake kertas cup cake, tapi cetakannya pake cetakan bolu kukus yang ada bolong-bolongnya, bukan cetakan muffin.



Lembuuuuut



Eggless Chocolate Cake Tanpa Mixer dan Oven



Ini resep, teteup saya dapetnya dari grup FB Dapur Aisyah. Kalau nggak salah, ini resep dari adminnya, Mbak Kamelia Marfu'ah. Aslinya  Mbak Kamelia masak pake rice cooker. Saya udah coba sih, tapi hasilnya nggak seperti foto yang Mbak Kamelia unggah, tinggi cakep. Saya malah nggak terlalu tinggi alias rada bantat. Menurut Mbak Kamelia, mungkin karena dia pake rice cooker yang ukuran kecil. Nah, buat temans yang mau nyobain pake rice cooker, caranya tekan tombol cook, setelah pindah ke warm, tekan lagi ke cook dengan jeda kurleb 5 menit. Lakukan ini sampai 3 atau 4 kali, baru deh adonannya mateng.



Tapi kalau mau aman, kukus aja deh, rasanya juga enak, nyoklaaaaat. Ini cocok buat yang alergi telur, karena nggak pake telur. Buat jualan juga oke, modalnya minim. Cara buatnya juga gampang, nggak pake lama. Nai sering nih minta dibawain bekal ini untuk sekolahnya. Oke deh, langsung aja yah resepnya yah, saya copas langsung dari grup:

Bahan:
  • 2 cup tepung (ayak)
  • 1/2 cup bubuk coklat (ayak)
  • 1 1/2 cup gula pasir
  • 1 sdt baking powder
  • 1 sdt baking soda
  • 1 cup susu cair
  • 1 cup minyak goreng
Topping:  
  • 1 cup dark cooking chocolate
  • 1/4 cup mentega
Cara Membuatnya:
  • Campur semua bahan kering,
  • Masukkan susu cair aduk rata (ngaduk pake garpu)
  • Tambahkan minyak goreng.
  • Setelah rata panggang pake rice cooker/ kukus
  • Pastikan mateng rata.
  • Setelah dingin kasi topping lelehan coklatnya



Kalo ngukus, inget yak jangan lupa tutup kukusannya di alas serbet atau kain, biar uap airnya nggak netes ke kue. Pancinya kudu dalam keadaan panas alias udah beruap, baru adonannya di masukkan. Untuk kematangan, kurleb 15-20 menit, pake tes tusuk yah.

Saat Nai Nonton Televisi

Di suatu hari yang panas, gerah, dan berasap (beneran berasap, inih Riau pemirsah), seorang gadis kecil yang biasa kami panggil Mbak Nai yang usianya sudah 5 tahun lebih, dengan seriusnya ngomong ke Ummi:

Mbak Nai: Mi, ntar kita ke swalayan yah. Tadi di TV Mbak liet ada yang untuk muka gitu. Biar Ummi nggak penuaan dini

Ummi: (Apppaaaaaah! penuaan dini? kaca...mana kaca...!!!) Hmmmm... emang penuaan dini itu apa yah Mbak?

Mbak Nai: Itu... jerawat yang ada di muka Ummi (masih dengan wajah serius, sambil nunjuk-nunjuk jerawat saya yang cuma... hmmmm... cumaaa... mendadak amnesia ilmu menghitung)

Ummi: Memangnya kalau ada jerawat Ummi jelek yah Mbak?

Mbak Nai: Nggak sih (wajahnya mulai terlihat aneh). Ya udah, kalau Ummi nggak punya duit, ntar biar Mbak minta ke Abi yah (dengan gaya sok bijak, dia pergi ke Abinya)

Ummi: (Ngelap ingus, berasa nelangsa)

Mbak Nai: Bi... Kasih Ummi duit dong

Abi: Buat Apa Mbak?

Mbak Nai: Buat Ummi bisa beli obat jerawat. Ntar Ummi penuaan dini, Bi.

Abi: (Ketawa lalu tawanya langsung mereda setelah melihat wajah Ummi yang manyun sangat) Iya deh, ntar Abi kasih yah (kembali ke laptop)

Mbak Nai: Bener yah, Bi. Kasian Ummi, nggak punya duit, kan Ummi nggak kerja, cuma nulis di laptop aja...

Ummi: (meres aer mata)

=========================================================================

Di Swalayan

Mbak Nai: Mi, ini 1 yah (sambil pegang coklat)

Ummi: Oke, inget yah Mbak, cuma boleh 2, jadi tinggal 1 lagi

Mbak Nai: 3 deh Mi...

Ummi: Nggak, janjinya kan cuma 2. Atau nggak jadi

Mbak Nai: Iya deh (manyun). Mi, jangan lupa yah beli yang kaya' di TV itu, biar Ummi nggak penuaan dini

Ummi: (Manyun juga, berasa benci banget dengan kata penuaan dini). Iya Mbak (ngambil tonik rambut)

Mbak Nai: Mi, Mbak lupa mau beli apa 1 lagi. Waktu itu Mbak lihat di TV. O yah Mi, beli yang itu Mi... yang itu juga... itu mi... (sambil nunjuk-nunjuk)

Ummi: (Puyeng) Udah Mbak pilih 1 aja. Belanjaan Ummi juga udah cukup

Mbak Nai: Tapi semua itu mbak pernah lihat di TV Mi

Ummi: Nggak semua yang Mbak lihat di TV itu harus kita beli, Nak.

==========================================================================

Sebelum tidur

Mbak Nai: Mi, di TV itu ada orang nggak malu. Masa pake bajunya jelek, pahanya nampak, Mi. Terus, punggungnya juga kelihatan

Ummi: Nah, karena jelek, nggak usah ditiru yah Mbak

Mbak Nai: Ngapa mereka nggak pake baju kaya' Mbak, Mi?. (mendadak dengan wajah cerah), Aha... Mbak tahu, karena mereka nggak punya duit beli baju kaya' Mbak. Jadinya, pake baju gitu. Kasian yah, Mi. Mbak doa biar Allah kasih mereka duit

Ummi: Iya, Nak. Aamiin... (nanya sendiri, jawab sendiri nih anak).

==========================================================================


Inih hanya sebahagian pemirsah, ada begitu banyak celoteh atau pertanyaan Nai. Kalau saya lagi capek, biar jawabannya nggak salah, maka saya delegasikan ke suami. Padahal, Nai itu nonton TV cuma pas nonton Upin Ipin, Laptop si Unyil, Otan, atau Masha and the Bear. Nggak tiap hari juga, cuma kalau laptop lagi di pake aja, biasanya dia nonton lewat laptop, acara yang udah didownload oleh Abi. Sebenarnya pengen sih, di rumah nggak ada TV, tapi untuk saat ini belum bisa. Salah satu alasannya, suami seneng banget nonton bola lewat TV layar gede, daripada nobar di luar. Ya sudahlah... yang jelas Nai masih bisa diatur tontonannya.

Nah, pas nonton lewat TV, ada iklan kan yah. Dari iklan itulah Nai ngeliat macam-macam. Bayangkan, cuma iklan. Gimana dengan anak-anak lain yang porsi menonton TV nya sangat besar dan tanpa pendampingan dari orang tua. Bisa-bisa TV jadi orang tua ketiga nih.

Menurut Rose Mini, salah satu psikolog anak, mengatakan bahwa, anak sangat mudah terpengaruh media audio dan visual karena stimulus yang lebih intens dan lebih menarik bagi anak. Melalui media, pola pikir anak cenderung konkret, apa yang dilihat dianggap benar sehingga anak dikhawatirkan akan meniru mentah-mentah apa yang disajikan televisi.

Alangkah baiknya, menurut Rose, jika orangtua melakukan ”diet media” kepada anak. Bagi anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak menonton media apa pun, sedangkan anak usia lebih dari 2 tahun harus dibatasi menonton televisi.

Untung aja Nai kenalan sama TV di usia 4 tahun, dan selalu ada pendampingan. Terlebih ketika Kak Seto mengatakan bahwa televisi sebenarnya bukanlah sahabat yang baik untuk anak-anak. Namun, karena tidak ada kegiatan lain yang diarahkan orangtua, anak dengan sangat gampang memilih televisi sebagai ”sahabat”. ”Sejak pagi buta hingga malam, anak-anak ditemani oleh tayangan-tayangan yang tidak mendidik, tetapi terkadang membuat anak-anak larut dan terlena,” kata Seto Mulyadi. Ia menambahkan, televisi ternyata membawa pengaruh negatif yang jauh lebih besar daripada positifnya. ”Program infotainment dan reality show pun tak luput jadi tontonan anak-anak dan remaja,” ujarnya.

Tau sendirikan, kalau banyak banget acara di Indonesia raya ini yang nggak mendidik sama sekali. Tapi sayangnya, masih banyak juga orang tua di luar sana yang tidak paham. Bahkan merasa anak mereka baik-baik saja. Padahal ada banyak efek negatifnya.

Setiap kemajuan teknologi, udah pasti lah yah ada efek positif dan negatifnya. Lalu sebenarnya apa yang menjadi efek negatif dari TV terhadap anak?. Ternyata hal ini lebih kepada permasalahan bahwa manusia adalah mahluk peniru dan imitatif. Perilaku imitatif ini sangat menonjol pada anak-anak dan remaja. Kemampuan berpikir anak masih relatif sederhana. Mereka cenderung menganggap apa yang ditampilkan televisi sesuai dengan yang sebenarnya. Mereka masih sulit membedakan mana perilaku/tayangan yang fiktif dan mana yang memang kisah nyata. Mereka juga masih sulit memilah-milah perilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma agama dan kepribadian bangsa. Adegan kekerasan, kejahatan, konsumtif, termasuk perilaku seksual di layar televisi diduga kuat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak.

Berikut beberapa efek negatifnya :
  • Berpengaruh terhadap perkembangan otak. Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. Ini terjadi lho sama anak tetangga saya, karena durasi nonton TV yang tinggi sejak usia 0-3 tahun, kemampuan berbicaranya menjadi terganggu.
  • Mendorong anak menjadi konsumtif. Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif. Nah, ini dia nih yang bikin Nai jadi banyak pengennya, korban iklan.
  • Mengurangi semangat belajar. Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
  • Mengurangi kreativitas. Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
  • Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan). Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Terlebih jika menonton televisi disertai dengan cemilan.
  • Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga. Terlebih menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV.
  • Matang secara seksual lebih cepat. Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat.
Sebenarnya banyak juga efek positif dari menonton televisi. Seperti menambah pengetahuan anak tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya, karena televisi bersifat audio visual. Jadi informasi terkesan nyata dan sangat mudah dipahami. Namun sayang, acara TV yang edukatif dan benar-benar tepat untuk anak masih sangat kurang. Kalaupun ada, masih harus kita cermati juga, apakah mengandung efek negatif yang terselubung atau tidak.

Bagaimana Solusinya ?
  • Membatasi anak dan memberinya jadwal menonton. Disesuaikan dengan waktu penayangan acara yang edukatif atau layak untuk ditontonnya. Lalu lakukan menonton bersama dalam artian yang sesungguhnya. Bukan sekedar membiarkan anak menonton dan kita sibuk di sekitarnya seperti, melakukan aktifitas rumah tangga atau pun menyelesaikan pekerjaan kantor yang tersisa. Juga bukan dalam artian kita menonton tayangan yang kita pilih dan membuat anak kita duduk menemani meskipun secara rasional dan emosional dia tidak pantas menerima. Bukan. Menonton bersama yang  benar adalah benar-benar menonton dan mengomentari tayangan tersebut secara dialogis dengan anak. Dengan menuntunnya mengambil nilai positif dari acara tersebut. 
  • Ajak anak untuk melakukan aktifitas lain, seperti berolahraga, pergi ke perpustakaan atau toko buku terdekat, bercocok tanam, membuat aneka kerajinan tangan, bereksperimen di dapur, ke kebun binatang atau museum. Bahkan yang paling mudah adalah mengajaknya untuk berpartisipasi dalam membersihkan rumah dan halaman. Nah loh, anak ada kegiatan, tugas rumah kita juga jadi lebih ringan
Nah, sila temans tambahkan solusi lainnya, menurut pengalaman masing-masing. Karena, tidak semua orang tua yang bisa komitmen untuk menerapkan rumah tanpa TV.

Tontonan yang sama dengan Ummi dan Abi waktu kecil

Cake Gagal di Hari Spesial




Sebelumnya udah sempet nulis yang rada manis dan serius di sini, tentang anniversary saya dan si Abi. Nah, akadnya dulu hari jum'at, resepsinya hari minggu, jadi pas banget deh sama tahun ini. Nggak papa yak, narsis dikit, di tengah hiruk pikuk persiapan nikahannya Raffi dan Gigi hehehe...

Postingan kali ini, hmmmm... rada malu-maluin kaya'nya. Nggak ada yang spesial sih, walaupun hari ini sempet nostalgia di alam pikiran saja tentang acara pernikahan kami dulu, sambil lirik-lirik foto yang ada di dalam lemari kaca. Aha! ternyata bobot kami berdua sudah sangat jauh berbeda hahaha... tambah subur makmur gemah ripah loh jinawi :D

Abaikan dah tentang bobot tubuh. Hari ini, saya dan si Abi sedang asyik berkutat di laptop masing-masing. Teteup, saya dengan lautan aksara, si Abi dengan lautan angka. Nah, jangan ditanya tentang sesuatu yang spesial, seperti kejutan berupa kado, kecupan di kening, makan malam romantis, atau jalan-jalan. Tidak pemirsah, semua itu tidak ada. Kami begitu larut dengan kerjaan hahaha... sudahlah yaaaa... cukup dengan doa yang berisi kebaikan bagi kami semua saja, plus wajah-wajah cantik kedua putri kami yang selalu riang gembira. Alhamdulillah...

Gi sibuk-sibuknya, tiba-tiba Mbak Nai minta dibuatin kue, pengen ngemil katanya. Hmmmm... baiklah, bahan-bahan masih ada, nggak ada salahnya saya buat sebentar, karena sesungguhnya saya juga lapar hihihi... Berhubung kue brownis kukus tanpa mixer masih nge-hits di rumah saya, saya buat ini aja deh. Bahan dan caranya juga simple, resep ada di sini yah. Buat improvisasi, saya akan beri coklat leleh di atasnya, lalu ditaburi kembang gula warna-warni.


Tapi temans... kuenya jadi, sayang bentuknya tak seperti yang diharapkan. Coklat lelehnya juga terlalu cair, penampakannya tidak terlalu cantik, tapi rasanya teteeuuuup enak :)

Ya sudahlah... mari makaaaaan :D   *piring plastik eksis mulu, maklum adanya cuma itu, tapi tupperware lho hahaha...


6 Tahun...


Hari itu, saya menghadiri acara aqiqah anak teman saya dan suami. Teman tersebut adalah pasangan tunanetra yang mampu menginspirasi banyak orang. Saya sempat mendampingi pasangan tersebut di saat-saat proses persalinan anak pertama mereka. Tapi, kali ini saya tak hendak untuk membahas bagaimana romantisme mereka sebagai pasangan suami istri.

Nah, di acara aqiqah tersebut, saat kami tengah menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah, pandangan saya teralihkan kepada pasangan suami istri yang baru saja datang. Sang istri sebagai pengemudi sepeda motor, sedangkan suaminya duduk di belakang sebagai penumpang sambil menggendong anak mereka dengan menggunakan gendongan ala kanguru. Pemandangan yang ganjil bukan? tapi tidak saat kita mengetahui bahwa sang suami adalah seorang tunanetra.

Saya jadi teringat sebuah ungkapan bahwa CINTA ITU BUTA. Kalau dilihat dari pasangan ini, mungkin orang akan mengatakan bahwa si istrilah yang merasakan cinta itu buta, kendati secara lahiriah ia memiliki penglihatan yang sempurna. Bagaimana bisa ia menikah dengan laki-laki tunanetra yang sehari-harinya hanya berprofesi sebagai tukang pijat?. Tapi, itulah cinta dan jodoh.

Zaman sekarang, berapa banyak sih orang-orang seperti sang istri tersebut?. Kebanyakan, dari mata turun ke hati. Belum lagi banyaknya embel-embel berupa kepentingan terhadap pasangan. Lantas, setelah merasa mendapatkan yang sesuai dengan kriterianya, dikemudian hari, mereka berpisah dengan alasan adanya perbedaan diantara mereka.

Memangnya ada manusia yang tidak berbeda atau 100% sama? tidak, bahkan yang kembar identik saja tetap memiliki perbedaan. Bisa saja, perbedaan, ketidakcocokan, sering dijadikan kambing hitam karena enggan mempublikasikan penyebab sebenarnya. Tapi, terkadang alasan sebenarnya sungguh tak jauh berbeda. Banyak pasangan yang tak setangguh pasangan jaman dulu yang konon lebih tahan banting dalam mengarungi gelombang, di samudera pernikahan.

Sejatinya, perbedaan dan ketidaksempurnaan bisa membuat pasangan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Oleh karena itu, saat memilih, tak semata lewat pandangan mata, tapi hendaklah karena ketakwaannya. Bagaimanapun, ketampanan bisa terkalahkan oleh kemapanan, tapi ketampanan dan kemapanan akan terkalahkan oleh keimanan. Tak lain, agar Allah Ridho dan SAMARA itu juga tercipta. Maka, baiti jannati itu tak sekedar fatamorgana.

Hari ini, tepat 6 tahun saat janji suci yang menggoncang Arsy itu diucapkan. Istimewanya, di hari yang sama, yaitu hari Jum'at. Bukan waktu yang singkat dan bukan pula waktu yang sudah terlalu lama. Ada banyak hal yang telah saya dan Abi lalui. Tak mudah, dan tak hendak pula menyebutnya terlalu sulit, karena sampai detik ini, kami masih selalu memupuk keyakinan bahwa dibalik 1 kesulitan ada 2 kemudahan. Tak ada yang tak mungkin bila Allah sudah berkehendak. Jadi, lebih baik selalu melangitkan rasa syukur. Bukankah kami diberikan oleh Allah fisik yang sempurna.

Semoga Allah selalu meridhoi kami, berkenan samara itu senantiasa ada, dan kami bisa menjadi Ummi Abi yang baik untuk kedua putri tercinta. Aamiin...

Mohon Aamiin juga yah temans semuaaaaa.... :)

Jangan sekali-kali beranggapan bahwa dunia ini sempurna atas diri seseorang
Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meraih segala yang ia inginkan
dan tidak ada seseorang yang terbebas dari kekurangan sedikit pun
(Dr. 'Aidh Bin 'Abdullah Al-Qarni)

Suami Suka Miabi



Hahaha... si ummi bikin judul rada nyeleneh, maklum pemirsah, ikutan latah nih, karena teman-teman pada sering juga bikin judul yang rada kontroversi, biar pengunjung rame trus kalau ada yang punya pikiran negatif, langsung suebeeeeel tingkat mahadewa *sumpeeeeh ummi nggak nonton seri India inih, cuma liat iklannyah :D

Jadi, sebenarnya mau nulis apaan sih? nulis resep lah, miabi itu sebenarnya Mi Abi. Iyah... mi kesukaan Abi, kesukaan suami saya. Sebenarnya ini resep cuma eksperimen dari asal cemplang-cemplung bahan dan bumbu yang ada di dapur. Depresi mau masak apa *lebay kumat
Bahan-bahannya pake yang ada di dapur deh pokoknya, jadi maaf kalau takarannya juga ngawur :D

Kebetulan nih daging qurban masih ada, sebelumnya saya udah bikin rendang. Rendang pertama yang saya buat sendiri, luaaaar biasa terharunya ketika berhasil membuatnya, bahkan saya sampe nangis berurai air mata... karena nggak sempet mengabadikannya lewat kamera T_T 
Padahal pan mau narsis juga nulis resep plus penampakannya di blog inih. Tapi, saking ueeenaknya... saya jadi amnesia :D

Baiklah, panjang amat mukadimahnya, kita langsung aja cekidot bahan dan cara Ummi memasaknya yah :)

Bahan:
  • 1/4 kg daging sapi
  • 2 lembar mie jagung
  • 1/2 buah bawang bombay
  • Bumbu halus (Cabe 4 + bawang merah 3 + Bawang putih 4)
  • Tomat 1 buah
  • Batang dan daun bawang 1
  • Daun seledri 1
  • Merica
  • garam
  • gula
  • saos tiram 2 sdt
  • Air secukupnya
Cara membuatnya:
  • Daging direbus sampe empuk, ambil kaldunya, daginya diiris kecil-kecil
  • Tumis bumbu halus sampai harum bersama dengan irisan bawang bombay
  • Masukkan daging ke dalam tumisan tadi, beri air, tambahkan merica, garam, gula, dan saos tiram
  • Setelah bumbu meresap, masukkan mie jagung, tambahkan kaldu
  • Terakhir, tambahkan tomat yang dipotong dadu, irisan batang dan daun bawang, juga seledri
Mudahkaaaaan, rasanya juga enaaaaak *kapan sih Ummi bilang masakannya nggak enak :D


Soft Durian Ala Viz Cake Pekanbaru


Pas si Abi dan Nai pergi ke Riau Expo 2014 beberapa hari yang lalu, Umminya kebagian jajanan ajah. Nyogok gitu rupanya, karena perginya nggak bilang-bilang. Si Abi beliin soft durian dari stand Viz Cake Pekanbaru. Tahu ajah kalo Ummi doyan banget. Dulu, biasanya kalo beli soft durian inih, ukurannya lumayan gede, dengan harga 25 ribu kalo nggak salah, sekarang udah 30 ribu. Nah, yang dibeliin si Abi ini soft durian mini. Ukurannya lebih kecil, harganya pas di Riau Expo 10 ribu saja. Produk mini ini baru diluncurkan bulan Maret yang lalu.


Soft durian ini terbuat dari durian yang dilapisi dengan sponge cake. Jadi, rasanya enaaaaaak, dan lembuuut banget. Makannya dingin-dingin. Makanan ini bisa bertahan di dalam lemari es selama 4-5 hari. Buat yang pengen dijadikan oleh-oleh, makanan ini bisa bertahan selama 10 jam perjalanan. Pokoke soft durian ini salah satu makanan favorit saya dari Viz Cake, selain bolu gulungnya yang juga enaaaaaak banget.


Nah, buat temans yang bertandang ke Pekanbaru atau mau ke luar kota, nggak ada salahnya buat mampir ke Viz Cake ini untuk cari oleh-oleh. Lengkaaaap banget, nggak cuma cake, tapi juga snack lain khas Riau termasuk lempuk durian, bahkan ada ikan salai juga. Saya kalau beli sesuatu untuk oleh-oleh, belinya di sini. Alamatnya ada di Jalan Hangtuah dan di Jalan Sudirman.

Rumah Makan Bude Di Pekanbaru

Di Pekanbaru, banyak banget tempat makan. Mulai dari ampera, rumah makan padang, cafe, restoran gede, maupun foodcourt yang ada di mall. Harganya juga bervariasi, ada yang nasi komplit plus lauk seharga 5 ribu rupiah saja, sampe yang harganya ratusan ribu per porsi. Tinggal menyesuaikan dengan selera dan isi dompet saja.


Nah, kalau temans bertandang ke Pekanbaru, bosen dengan rumah makan padang yang menjamur, sila mampir ke rumah makan Bude. Letaknya di Jalan Hangjebat x no. 17 Gobah. Makanan yang disajikan makanan khas Jawa,, Melayu, dan Minang. Ada banyak pilihan makanan, temans tinggal menunjuk makanan mana saja yang diinginkan di meja prasmanan, lalu mencari tempat duduk, tak berapa lama makanan yang temans pilih tadi akan diantarkan, lengkap dengan nasinya yang sebakul. Di sini, kita diberikan sayur gratis. Jadi, buat yang nggak pengen kebanyakan sayur di mejanya, nggak perlu nunjuk sayur yang ada di meja prasmanan, kecuali emang doyan banget sayur or ada sayur yang diincer di meja prasmanan.

 Meja Prasmanan

 Makanan nyampe ke meja

Untuk minumannya, coba deh es buahnya, enak dan segeeeeeer banget. Buat yang nggak doyan, ada minuman lain, teh es/anget, jeruk es/anget, atau air putih saja :D Yang jelas, menunya memang pas banget buat makan siang. Kalau temans ke sini, cepetan yah, sekitar jam 11 an gitu, karena di atas jam segitu, tempat ini bakal ruameee banget, bahkan susah buat dapetin tempat duduk lho. Padahal tempatnya lumayan luas, parkirnya juga, di sana juga ada fasilitas tempat shalatnya.

 Ada tempat shalat di samping belakang

Tempat parkir luas

Dulu, rumah makan Bude ini ada diseberang SMP Santa Maria, tempatnya juga agak masuk ke dalam. Jadi, walaupun pindah tempat, rumah makan ini udah punya banyak sekali pelanggan yang nggak peduli kemanapun rumah makan ini pindah, bakal tetep dijabani hehehe... Termasuk saya. Dulu, bisa dibilang tiap makan siang, saya selalu makan di sini, jaman saya masih jadi guru SMK, tahun 2008 lah.


Ikan Goreng Siram Saus Mangga



Ini makanan yang sering banget saya buat pas lagi hamil adek Khai. Rasanya enak, apalagi sensasi asam dari mangga, segeeeeer. Maklum temans, pengennya makan mangga muda, tapi nggak tahan karena ada maag. So, karena saya doyan banget sama ikan, untuk variasi, olahan ikan goreng siram saus mangga ini jempooool banget deh. Cara buatnya juga gampang, hasilnya enak, bahkan kalau saya makannya bisa sampai bersih banget, tulang-tulang ikan murni tulang-tulang aja tanpa tersisa dagingnya sedikitpun, bahkan tulang-tulangnya remuk tak berbentuk lagi hehehe... *rakus ini mah

Bahan:
  • 3 ekor ikan nila ukuran sedang (bersihkan)
  • 2 buah mangga ukuran sedang yang setengah matang (iris panjang-panjang)
  • 1 ruas jahe (iris)
  • 5 batang cabe merah (iris)
  • 3 siung bawang putih (iris)
  • 1 buah bawang bombai ukuran sedang (iris)
  • 1 buah tomat merah (potong dadu)
  • 1 sdt merica
  • gula secukupnya
  • garam secukupnya
  • saus tomat 5 sdm
  • Air 6 sdm
  • Maizena 1 sdt
  • minyak untuk menggoreng
Cara membuatnya:
  • Ikan dilumuri garam, lalu goreng
  • Tumis semua bahan saos, cabe, bawang putih, bawang bombai, jahe, beri garam,gula, merica, dan masukkan saus tomat, air yang telah dilarutkan dengan maizena, terakhir beri irisan mangga
  • Siram saus yang telah matang tadi ke atas ikan yang telah digoreng.

Jepretan Riau Expo 2014

Nah, pulang dari manasik haji, Nai dan Abi rupanya mampir ke Riau Expo. Nggak bilang-bilang sama Ummi pemirsah... alasannya kerena kebetulan lewat, trus udah hari terakhir, sayang kalau nggak mampir. Padahal saya juga pengen banget ke Riau Expo, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi sekarang, nggak bisa karena masih ada asap, walaupun nggak terlalu pekat, tapi bahaya juga buat baby.

Ya udah deh, lagi-lagi saya cuma kebagian lihat fotonya aja... Moga Riau Expo berikutnya saya bisa datang langsung ke sana ^__^











Brownis Kukus Tanpa Mixer



Baking lagiiiiii... semangat bener yak si Ummi hehehe... Maklum pemirsah... baking itu ternyata mampu jadi sarana refreshing yang asyik. Hasilnya, bisa dimakan lagi, walaupun gagal, asal layak makan, teteup ludeeeees hihihi... Soale, mau jalan-jalan, nggak bisaaaa, masih asap nih, kasian adek Khai.


Nah, kali ini saya nyobain resep brownis yang bikinnya tanpa mixer, bukannya nggak punya mixer, tapi kalau nggak pake mixer kan bisa lebih hemat listrik dan nggak polusi suara hihihi... (bilang ajah irit yak). Resep ini, teteup dapetnya dari grup dapur Aisyah yang kereeeen itu, Jazakillah... buat yang udah posting resepnya, sangat bermanfaat banget buat saya yang anak baru di dunia perbakingan *clingak-clinguk ngecek ada editor dimari kagak :D

Oke deh, bahan dan cara membuatnyanya saya copas langsung dari yang posting:

Bahan:
terigu 250 gr. coklat bubuk 100 gr. gula halus 200 gr. minyak goreng 200 cc. air kopi 200 cc. telur 2 butir (kocok lepas). garam 1 sdt. soda kue 1 sdt.

Cara:
  1. Terigu. coklat bubuk. soda kue. gula halus campur rata. lebih baik lagi apabila terigu dan coklat bubuk diayak terlebih dahulu.
  2. Di gelas lain campur telur kocok+minyak goreng.
  3. Campuran terigu dituangi air kopi sampai rata.
  4. Setelah tercampur masukkan campuran minyak goreng+telur.
  5. Aduk- aduk sampai benar-benar rata.
  6. Masukkan loyang dan kukus.
  7. Tes kematangan brownis dengan tusuk gigi 
Rasanya, nyoklaaaaaaat bingiiiiiiits.... :)