Puding Pepaya

Puding Pepaya

Siapa yang doyan buah pepaya, ayoooo angkat dan tunjukkan jari jempolnya hehehe... Keluarga kami doyan banget sama buah ini. Selalu stok di lemari es. Maklum, kami sering mengalami gangguan pencernaan (masalah BAB). Buah ini mengandung banyak sekali nutrisi, seperti vit A, vit B, vit C, riboflavin, niacin, kalsium, kalori, zat besi, fosfor, kalium, lemak, karbohidrat, dan protein.

Manfaatnya juga nggak kalah banyak, yaitu mengatasi gangguan pencernaan, mencegah flu, mencegah serangan jantung dan strok, mempertajam penglihatan, menjaga kesehatan ginjal, anti radang, dll. Hanya saja, bosen juga kalau mengkonsumsinya hanya sebagai buah potong, terutama bagi anak saya Nai.

Nah, suatu hari (eaaaa) kami sekeluarga makan di salah satu rumah makan yang ada di Pekanbaru. Ketemulah salah satu variasi hidangan pepaya, yaitu puding pepaya. Pepayanya tidak dihaluskan, melainkan utuh. Bentuknya jadi cantik.

Cara membuatnya juga gampang banget. Pepaya utuh di potong memanjang, buang bijinya. Lalu masak puding (saya menggunakan puding susu nutrijell rasa stroberi), setelah masak, masukkan ke dalam pepaya. Setelah puding membeku, potong-potong, simpan di dalam lemari es, karena dingin lebih enak. Nai juga jadinya tertarik dan doyan banget. Manfaat buah pepayanya juga jadi makin oke buat pencernaan, karena ada kandungan rumput laut dari puding.

Penasaran? Sila dicoba :)
 

Puding pepaya
yang saya makan di rumah makan (pudingnya 2 warna)

Jamu Gendong, Antara Kualitas, Khasiat, dan Keamanan



Dok. Pribadi

Langganan jamu gendong?. Pernahkah bertanya kepada tukang jamu bagaimana ia mengolah jamunya?. Jika belum, tidak ada salahnya untuk Anda tanyakan kepada tukang jamu gendong langganan Anda. Bagaimana dengan saya?, saya pernah. Semenjak saya mengenal jamu lebih dalam, saya menjadi sangat kritis. Bagaimanapun, sama halnya dengan obat-obatan medis, jamu yang dikenal juga sebagai obat-obatan tradisional ini tetap memiliki efek samping apabila tidak tepat dalam mengkonsumsinya.

Hampir sama dengan kebanyakan orang, saya juga mengenal jamu dari kebiasaan Ibu saya dulu yang selalu meminum jamu gendong langganannya. Saat kecil, saya juga diberikan jamu oleh Ibu, yaitu jamu beras kencur. Seiring bertambah usia, tak hanya beras kencur, saya juga pernah mengkonsumsi jahe merah, jamu uyup-uyup, kunir asam, temulawak, dll. Selain tergiur dengan khasiatnya, ada kebanggan tersendiri saat mengkonsumsi jamu, yaitu ikut melestarikan salah satu warisan leluhur Indonesia. Terlebih, Indonesia memiliki kekayaan anega ragam tumbuhan, setidaknya terdapat sekitar 940 jenis diantara puluhan ribu jenis tanaman yang telah diketahui mempunyai khasiat obat, dari jumlah tersebut baru 250 jenis yang sudah dimanfaatkan dalam industri jamu.

Kembali lagi ke jamu gendong. Saya pernah bertanya kepada Mbak jamu (usianya masih muda) langganan saya. Bagaimana cara iya mengolah jamunya. Mbak jamu mengatakan kepada saya, dia memproses jamunya dengan cara ditumbuk, menggunakan  alat seperti ulekan. Saat telah mampu membeli sebuah blender, iya beralih menggunakan blender yang tabungnya terbuat dari kaca. Selain lebih praktis, tidak memakan banyak tenaga. Lalu, iya merebus dengan menggunakan panci dari tanah. Setelah agak dingin, dia lalu memasukkan jamu tersebut kedalam botol-botol kaca dan siap untuk dibawa.

Selanjutnya, saya juga bertanya tentang bahan yang digunakannya, dimanakah ia peroleh bahan-bahan tersebut. Ternyata, beberapa bahan simplisia yang digunakannya ditanam sendiri, dan beberapa iya beli di pasar tradisional yang menjual aneka simplisia. Oh iya, mungkin banyak yang belum begitu familiar dengan istilah simplisia. Simplisia itu adalah bahan-bahan alam yang bisa digunakan sebagai obat-obatan, namun proses pengolahannya masih sangat sederhana. Simplisia yang berasal dari tanaman atau eksudat tanaman disebut sebagai simplisia nabati. Berikut jenis-jenis simplisia nabati:

  • Herba. Herba adalah tanaman obat yang digunakan mulai dari akar, batang, daun, bunga, dan buah pada tanaman jenis herbaceus.
  • Buah (fruktus). Buah untuk simplisia biasanya yang sudah masak.
  • Daun (folium). Daun bisa dikatakan merupakan simplisia yang paling sering digunakan dalam ramuan herbal untuk pengobatan. Daun yang digunakan bisa daun kering atau daun yang masih segar.
  • Bunga (flos). Bunga tunggal atau bunga majemuk bisa digunakan sebagai simplisia.
  • Biji (semen). Biji yang digunakan biasanya dikumpilkan dari buah yang sudah masak.
  • Kulit buah (pericarpium). Kulit buah juga biasanya dikumpulkan dari buah-buahan yang sudah masak.
  • Kulit kayu (cortex). Pada tanaman tingkat tinggi,kulit kayu adalah bagian terluar dari batang.
  • Kayu (lignum). Kayu tanpa kulit adalah salah satu yang biasa digunakan pada simplisia. Kulit kayu biasanya dipotong dengan cara miring sehingga permukaannya menjadi lebar, tetapi ada juga yang berupa serutan kayu.
  • Akar (radix). Akar yang digunakan sebagai simplisia bisa berupa akar tunggang dan akar serabut. Akar tunggang hanya terdapat pada tumbuhan yang ditanam dari biji. Simplisia tersebut bisa rumput, perdu, atau tanaman berkayu keras. Simplisia akar dikumpulkan saat proses pertumbuhan tumbuhan tersebut terhenti.
  • Rimpang (rhizome). Rimpang adalah batang dan daun yang terdapat di dalam tanah. Berbentuk bercabang-cabang dan biasanya tumbuh mendatar. Tunas tumbuh dari ujungnya dan naik kepermukaan tanah menjadi tumbuhan baru.
  • Umbi (tuber). Umbi merupakan penjelmaan batang atau akar, sehingga dapat dibagi menjadi umbi batang dan umbi akar. Sebagai simplisia, umbi biasanya dipotong miring agar permukaan menjadi lebar. Umbi harus melewati proses direndam atau dikukus terleih dahulu, apabila umbi bersifat tonik.
  • Umbi lapis (bulbus). Umbi lapis merupakan bagian yang berlapis-lapis daunnya, tebal, lunak, dan berdaging.
Lebih lanjut, Mbak jamu menjelaskan, bahwa dia memproses jamunya  dengan cara yang sama yang diajarkan oleh Ibunya yang dulu juga bekerja sebagai penjual jamu gendong di kampung halamannya. Demikian juga dengan racikan jamunya. Ibunya sendiri, memperoleh seluruh pengetahuannya dari ibunya juga. Jadi, bisa dikatakan sudah turun temurun.

Saya dapat bernafas dengan lega, setidaknya Mbak jamu sudah melakukan pengolahan jamunya dengan cukup baik, dilihat dari apa yang diceritakannya. Mengapa demikian? karena menurut beberapa literatur yang pernah saya baca, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan jamu, yaitu sebagai berikut:

  • Pemilihan bahan baku untuk pembuatan jamu harus tepat. Pemilihan bahan dasar simplisia harus memperhatikan aroma, rasa, kandungan kimia, maupun sifat fisiologisnya. Bahan baku untuk membuat jamu pemilihannya harus tepat, demikian juga dengan jenis dan bagian tanaman yang digunakan. Hal ini disebkan karena terdapat perbedaan kandungan dan khasiat yang berbeda dari setiap bagian tanaman.
  • Cara pengumpulan simplisia. Beda simplisia, beda pula cara pengumpulannya. Yang harus dilakukan pertama kali adalah penyortiran pasca panen (sortasi basah), untuk mengetahui bagian simplisia mana yang akan digunakan. Sebelum memanen, perhatikan usia tanaman tersebut, karena usia tanaman berpengaruh terhadap jumlah kandungan zat aktif di dalamnya. Demikian juga dengan waktu memanennya. Ada waktu tertentu saat kandungan zat aktif tanaman paling tinggi, misalnya untuk mendapatkan kandungan minyak atsiri yang maksimal, pemanenan sebaiknya dilakukan di pagi hari dan langsung diolah saat masih segar. Sedangkan untuk mendapatkan kandungan amilum, sebaiknya pemanenan dilakukan sore hari. Untuk pengumpulan daun, kumpulkan saat tanaman hampir berbunga. Untuk bunga, kumpulkan segera saat sebelum atau sesudah bunga mekar. Untuk buah, dipanen saat sudah matang. Selanjutnya untuk bijinya, dikumpulkan dari buah yang sudah matang dengan sempurna. Tak kalah penting juga, untuk daun ada yang dipanen yang muda (berupa pucuk), seperti teh. Ada juga yang dipanen ketika pertumbuhan daun telah maksimal, seperti daun salam dan daun sirih.
  • Pencucian bahan. Cara membersihkan simplisia segar, cuci dengan air kran, pancuran, atau selang. Dilakukan secara berulang 1-2 kali. Setelah dicuci, tiriskan, dengan cara meletakkannya di atas tikar, nyiru, atau saringan kasa, sampai air tidak menetes lagi. Untuk daun muda, pengeringan cukup dengan diangin-anginkan saja. Sedangkan daun tua, dijemur dengan menggunakan tudung.
  • Cara penyimpanan simplisia. Penyimpanan simplisia juga harus diperhatikan, untuk simplisia yang segar bisa disimpan ditempat yang bersih dan tidak terkena panas atau sinar matahari langsung. Jika hendak digunakan, bahan-bahan tersebut harus dicuci dahulu sampai bersih. Namun, untuk simplisia segar yang baru disiapkan atau dipetik, sebaiknya langsung diproses. Sedangkan pada simplisia kering, harus disimpan ditempat yang kering. Jangan sampai simplisia kering tersebut terkena kotoran, lembab sehingga berjamur, atau dimakan serangga. Apabila itu terjadi, sebaiknya simplisia tersebut jangan digunakan lagi. Gunakanlah wadah seperti tong kayu, stoples kaca, atau kantong kertas untuk penyimpanannya.
  • Kebersihan. Selain tempat penyimpanan, memperhatikan kebersihan tangan, ruangan, dan peralatan  yang digunakan untuk memproses simplisia juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. Panci perebusan, saringan, sendok, gelas, alat penggiling, dan peralatan lainnya harus dalam kondisi bersih. Setelah digunakan juga harus kembali dibersihkan, walaupun nanti akan dipakai kembali untuk memproses ramuan yang sama. Hal itu sangan penting, agar terhindar dari kotoran sehingga menimbulkan penyakit lain atau bahkan menghilangkan khasiat obat itu sendiri karena dalam kondisi tidak bersih.
  • Alat yang digunakan. Perebusan simplisia sebaiknya menggunakan panci yang terbuat dari tanah, keramik, kaca, atau stailess steel. Sebisa mungkin jangan merebus ramuan dengan menggunakan panci berbahan alumunium, kuningan, atau besi. Selanjutnya, peralatan yang berbahan timbal atau timah hitam juga dilarang keras agar terhindar dari timbulnya endapan pembentukan zat beracun, konsentrasi larutan obat menurun, atau efek samping yang terjadi karena reaksi bahan kimia panci dengan zat yang dikeluarkan oleh simplisia.
Nah, apakah penjual jamu gendong sudah mengetahui dengan baik hal-hal di atas?. Pengetahuan tersebut tidak hanya harus dimiliki oleh penjual jamu saja, tapi juga bagi masyarakat yang ingin membuat jamu sendiri di rumah. Tujuannya, agar adanya jaminan kualitas atau mutu, keamanan, dan khasiatnya. Berbeda dengan Obat herbal terstandar, yang dikembangkan berdasarkan bukti-bukti ilmiah dan uji pra klinis serta standarisasi bahan baku. Jadi, melewati sebuah proses ekstrak, higienitas, serta uji toksisitas. Demikian juga fitofarmaka, yang dikembangkan berdasarkan uji klinis, standarisasi bahan baku, dan sudah bisa diresepkan dokter.

Penjual jamu saat ini banyak sekali, setidaknya berdasarkan data pada Departemen Kesehatan, terjadi peningkatan yang pesat, jumlah penjual jamu pada tahun 1989 sebanyak 13.128 orang, dan meningkat menjadi 25.077 orang pada tahun 1995. Itu hanya yang terdata, mungkin angkanya bisa lebih dari itu, begitu juga saat ini. Di Pekanbaru saja, penjual jamu yang rata-rata berasal dari Jawa, saat ini sangat mudah ditemui, tak hanya jamu gendong, sekarang penjual jamu juga sudah menggunakan moda transportasi, seperti sepeda, atau sepeda motor. Bahkan, banyak juga yang mempunyai tempat permanen untuk berjualan, tidak perlu keliling-keliling lagi. Jamu yang dijual juga tidak hanya jamu racikan sendiri, tetapi juga jamu yang sudah terstandar, dalam kemasan modern, berbentuk ekstrak, minyak, bubuk, tablet, atau kapsul.

Semoga para penjual jamu gendong sudah teredukasi dengan baik tentang cara pengolahan jamu agar kualitas atau mutu jamu terjamin keamanan dan khasiatnya. Karena, sebagai konsumen, kita tidak mengetahui dengan pasti bagaimana penjual jamu tersebut membuat jamunya. Bahkan, masih ada penjual jamu yang menggunakan wadah jamunya dari botol bekas air mineral, yang seharusnya tidak boleh digunakan secara isi ulang. Jika belum, semoga setiap daerah ada paguyuban penjual jamu, selalu mengadakan peningkatan kemampuan anggotanya. Tentunya dibutuhkan juga peran aktif dari pemerintah dan swasta yang concern terhadap jamu. Jadi, jamunya berkualitas, kemampuan finansial penjual jamunya juga teratas. Ya, semoga!

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Jamu di Blog Biofarmaka IPB"
 
Daftar Referensi:
Maryani, Herti dan Suharmiati. Tanaman obat untuk Mengatasi Penyakit pada Usia. Lanjut. Jakarta : Agromedia Pustaka. 2008.
Oci Yonita. Ajaibnya Terapi Herbal Tumpas Penyakit Diabetes. Jakarta : Daun Sehat Publishing. 2012.



Bolu Kukus Gula Merah Tanpa Mixer

Bolkus Gulmer

Sebelumnya saya udah posting resep bolu kukus gula merah tanpa telur dan mixer. Kali ini, karena saya masih penasaran dengan bolu kukus saya yang ketawanya masih malu-malu, saya coba buat lagi deh. Tapi yang saya buat menggunakan telur dan tak lupa menutup tutup dandang dengan kain, tidak seperti bolu kukus sebelumnya. Ini tetap tidak menggunakan mixer ya. Untuk bahan-bahannya masih sama, hanya saja saya menambahkan 1 butir telur.

Bahan:
  • 1/4 kg gula merah, direbus dengan 150 air + 1 batang kecil kayu manis, saring, dinginkan
  • 1 butir telur
  • 1/4 terigu protein sedang (ayak)
  • 100 ml minyak goreng 
  • 1/2 sdt baking powder 
  • 1/2 sdt soda kue
Caranya: Siapkan dandang untuk mengukus, isi air, letakkan di atas kompor dengan api sedang. Campur semua bahan, aduk searah jarum jam sampai rata, tekstur nantinya agak kental. Setelah itu masukkan ke dalam cetakan beralas paper cup, kukus dlm dandang yang sudah beruap banyak, selama 30 menit dengan api besar. Dapetnya 12 bolkus.

Inget yah, tutup dandangnya dialas dengan kain. Dandang harus sudah kita siapkan terlebih dahulu sebelum membuat adonan.

Hasilnya, woooooow.... bolu kukus saya nggak cuma ketawa, tapi ngakak. Puaaaaas deh saya :)


Kalau temans mau buat bolkus warna-warni seperti yang dijual itu, skip aja gula merah dan kayu manisnya, diganti dengan gula 50g. Gula kasar ya, tapi diblender dulu sampai halus. Kalau pakai gula halus, kurang manis hasilnya. Selamat mencoba :)


Resep Es krim 1 Kali Mixer


Suka es krim nggak?. Biasanya, suka pake banget hehehe... Hampir setiap orang suka es krim, nggak cuma anak-anak, tapi orang tua juga. Gitu juga dengan saya sekeluarga, paling doyan es krim. Biasanya nih, es krim selalu beli, kalau bikin sendiri repot, apalagi kudu mixer berulang kali. Pernah bikin sendiri, tapi itu pakai tepung es krim yang siap pakai, rasanya kurang sip.

Nah, saya baru nemu resep es krim yang gampang banget bikinnya, cukup 1 kali mixer ajah. Rasanya juga enaaaaak banget, nggak kalah sama es krim merek terkenal deh. Resep ini saya dapat (lagi-lagi) di grup FB Dapur Aisyah :)

Bahan:
  • 3 sdm tepung maizena
  • Air 750 ml
  • 1 butir telur
  • 1 sdm SP
  • Susu kental manis 1 kaleng
Cara Membuatnya:
  • Campur maizena dengan air, kacau hingga larut. Tambahkan telur dan SP, kacau lagi, lalu masak dengan menggunakan api sedang
  • Setelah adonan mengental dan meletup-letup. Matikan api kompor, dinginkan adonan.
  • Setelah dingin, mixer adonan tadi dengan kecepatan tinggi selama 5 menit
  • Masukkan susu kaleng, lalu mixer lagi selama 15 menit dengan menggunakan kecepatan tinggi.
  • Masukkan adonan ke dalam cup, letakkan di frezeer hingga beku.
Gampangkan  membuatnya. Saya tidak menggunakan pewarna, dan resep ini sedikit saya modif. Air yang 750ml saya ganti dengan santan 500ml, dan air + daun pandan yang diblender 250ml (jadi warnanya soft hijau). Kalau temans nggak punya mixer, jangan khawatir karena bisa pakai blender.

Rasa es krimnya enaaaaak, seperti es krim rasa coco pandan buatan merk terkenal, tapi punya saya tekstur dan rasanya lebih padat. Sekalipun di letakkan dalam cup kecil, makan 1 cup aja udah puas. Kalau bikin es krim segampang ini, bisa bikin es krim melulu nih saya, ntar bikin dicampur durian or buah-buah lainnya juga bisa.

Tips Menjaga Kesehatan Mata

Mata adalah anugerah yang luar biasa. Begitu vitalnya fungsi mata bagi kehidupan kita sehari-hari, maka kita harus menjaga anugerah ini dengan baik. Menjagakan lebih baik daripada mengobati yah, hal ini juga berlaku pada mata. Kalau kita mengabaikannya begitu aja, maka besar kemungkinan kita dapat terkena gangguan pada mata, misalnya nih penurunan fungsi mata, bahkan bisa lebih. Memang kebanyakan gangguan atau penyakit pada mata nggak menimbulkan kematian namun dapat menyebabkan kebutaan. Pengaruhnya juga besar, nggak hanya menjadi masalah medis atau klinis, tetapi juga memasuki ranah sosial. Menyebabkan keterbatasan pada penderitanya, yang berkaitan dengan produktivitas, kinerja dan mobilitas, secara general juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat, dan negara.

Padahal, untuk melakukan perawatan pada mata itu nggak sulit lho. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai pencegahan, terutama terhadap kebiasaan buruk kita yang dapat mempengaruhi kesehatan mata, yaitu:
  • Memperbanyak konsumsi makanan berupa sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin A, C, dan E sebagai nutrisi untuk mata, seperti; pepaya, tomat, wortel, alpukat, brokoli, rimbang, telur, minyak ikan kod, hati, susu, dan mantega.
  • Saat melakukan aktivitas di luar, gunakanlah kacamata sebagai pelindung mata dari cahaya matahari, polusi udara baik berupa debu dan asap.
  • Gunakan kaca filter pada layar komputer untuk menangkal radiasi, serta istirahatkan mata sejenak agar tidak lelah.
  • Tidak menggosok-gosok mata dengan kuat dan sering.
  • Saat membaca buku jangan terlalu dekat, minimal dengan jarak 30cm, gunakan penerangan dan posisi yang bagus, jangan sambil tiduran.
  • Kurangi menonton televisi. Saat menonton harus dengan jarak, posisi dan penerangan ruangan yang baik.
  • Rutin memeriksakan kesehatan mata, minimal setiap setahun sekali.
Di jaman canggih seperti sekarang ini, banyak aktivitas yang dilakukan manusia dengan menggunakan komputer atau laptop. Tapi tahukah Temans, bahwa otot mata kita terdiri dari tiga otot eksternal yang mengatur gerakan bola mata? Ketiga otot ini pulalah yang akan bekerja keras ketika kita bekerja di depan komputer/laptop selama tiga jam sehari secara kontinyu.

Saat sepasang mata ini diforsir untuk bekerja terus menerus tanpa istirahat, maka otot-otot eksternal pada mata akan bekerja semakin keras lagi. Saat mata sudah terlalu lelah, kemampuan fokus pada mata pun akan semakin menurun. Bahkan nih yah bisa mengakibatkan sakit kepala, penglihatan menjadi kabur secara permanen sehingga harus menggunakan kacamata, ataupun malah semakin menambah ukuran minus/plus bagi yang telah menggunakan kacamata.

Apalagi buat para penulis dan blogger. Akrab banget deh dengan komputer/laptop. Biasanya penulis itu fokus banget kalau lagi ngetik. So, menjaga kesehatan mata itu sangat penting. Berikut ini adalah Tips sehat untuk mata bagi para penulis, blogger, dan pekerja lainnya yang setiap harinya selalu berhadapan dengan komputer/laptop:
  • Untuk mengurangi radiasi, gunakan filter pada layar komputer.
  • Jarak pandangan mata dengan monitor komputer tidak terlalu dekat. Idealnya jarak pandang mata dengan monitor adalah 50-70 cm.
  • Letak posisi monitor jangan terlalu tinggi atau rendah dari pandangan mata, karena berpengaruh terhadap leher. Idealnya posisi monitor lebih rendah dari pandangan mata yaitu bagian tengah monitor berada 10-25 cm di bawah mata.
  • Mengatur pencahayaan monitor dan ruangan dengan intensitas kenyamanan mata. Tidak menggunakan pencahayaan yang terlalu terang atau terlalu redup, karena dapat membuat mata cepat lelah. 
  • Mengambil jeda sejenak untuk mengendurkan otot-otot mata, dengan cara memandang tanaman hijau atau langit biru.
  • Memperbanyak mengedipkan mata, karena saat berada di depan komputer terlalu lama, dapat menyebabkan mata cepat kering. Mata kering akan cepat iritasi, dan iritasi mata membuat mata terasa sepat dan perih. 

Bolu Kukus Gula Merah Tanpa Telur dan Mixer

Ditabur keju lebih enaaak

Bikin bolu kukus nggak pakai telur dan di mixer? Emang bisa?. Eh ternyata bisa lho, resep ini saya dapat di grup FB Dapur Aisyah. Trus pertanyaan terpentingnya adalah apakah bolu kukus tersebut bisa mengembang atau kerennya dibilang ketawa?, bisa. Alhamdulillah saya nggak kena kutukan bolu kukus hihihi... yang bisa bikin bolu kukusnya tetep mingkem.
 
Cuma, nggak terlalu ketawa, karena pas ngukus saya lupa nutup tutup kukusan pakai kain. Kalau nggak ditutup kain, uap air bisa jatuh ke adonan kue. Trus, cup yang saya gunakan ukurannya besar, nggak banding dengan cetakannya, pas ngisinya saya juga kurang pas, cuma 1/2 cup, mungkin sebaiknya 1/4 cup.

Nah, penasaran? Yuuuk langsung catet resepnya. Ini saatnya yang nggak punya mixer tetep bisa baking dan yang alergi telur tetep bisa makan bolu kukus.

 Bahan:
  • 1/4 kg gula merah, direbus dengan 150 air + 1 batang kecil kayu manis, saring, dinginkan.
  • 1/4 terigu protein sedang (ayak)
  • 100 ml minyak goreng
  • 1/2 sdt baking powder
  • 1/2 sdt soda kue
Caranya:

Siapkan dandang untuk mengukus, isi air, letakkan di atas kompor dengan api sedang. Campur semua bahan, aduk searah jarum jam sampai rata, tekstur nantinya agak kental. Setelah itu masukkan ke dalam cetakan beralas paper cup, kukus dlm dandang yang sudah beruap banyak, selama 30 menit dengan api besar.

Inget yah, tutup dandangnya dialas dengan kain. Dandang harus sudah kita siapkan terlebih dahulu sebelum membuat adonan.
 

Gampangkan cara membuatnya. Pas dapet resep ini, saya langsung ngajak Nai untuk eksekusi. Udah lama juga kami nggak baking. Mumpung adek Khai tidur. Lagipula membuat bolkus ini cepet banget. Rasanya? Alhamdulillah enak, Nai suka. Nah, untuk yang niat buat dijual, resep ini terbilang mudah dan murah. Silakan dicoba yaaaa :)
 

Ingat Al-Quran, Ingat Syaamil Quran

Pada postingan tema hari ketiga tentang Al-Quran, saya sudah menjabarkan Al-Quran apa saja yang biasa kami gunakan. Salah satu Al-Qurannya adalah Al-Quran produksi Syaamil Quran, yaitu Al-Quran per kata type Hijaz. Al-Quran ini selalu dibawa saat mengikuti pengajian tafsir. Al-Quran ini dilengkapi dengan daftar nama surat, klasifikasi ayat-ayat Al-Quran (indeks tematik), dan keterangan tanda-tanda baca. Bahkan, di kertas pembatas halamannya ada jadwal waktu shalat, keterangan tentang tanda-tanda waqaf, dan doa sujud tilawah.


 Al-Quran Hijaz Per Kata Milik Saya

 Keutamaannya
Al-Quran type Hijaz pemberian suami ini, sudah lama saya miliki. Ternyata, ada beberapa jenis, yaitu Al-Quran Miracle Hijaz The Praktice, Hijaz Madina, dan New Hijaz A5.

Al-Quran Miracle Hijaz The Practice ini sangat lengkap sekali, 604 inspirasi amalan praktis bagi kehidupan, dikaji berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Berikut keunggulan lainnya:
  • Panduan amal terdapat dalam setiap halaman
  • Disusun berdasarkan 10 tema utama Al-Quran: tauhid, iman, ibadah,akhlak, muamalah, hukumdan sosial, sejarah dan peradapan, wawasan,tarkiyah, dan dakwah
  • Setiap halaman juga dilengkapi dengan intisari tafsir shahih terkenal, khazanah pengetahuan, rujukan hadist shahih, asbabun nuzul, studi ilmu Al-Quran,makna kalimat Al-Quran, dan doa Al-Ma'tsur
  • Tafsir per kata
  • Transliterasi
  • Ayat pojok
  • Mushaf sesuai standar Kementrian Agama RI dan dinyatakan dengan sertifikat tashih
  • Khat rasm Usmani, tipis dan lancip hingga nyaman dibaca
  • Penulisan yang stabil dan jelas, tidak melelahkan mata.
Miracle Hijaz The Practice ini memang Al-Quran yang benar-benar praktis dan lengkap yah. Harganya juga terjangkau Rp 269.000 saja.

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/miracle-hijaz-the-practice.jpg


Selanjutnya adalah Hijaz A4 tipe Madinah. Al-Quran cantik yang harganya Rp 129.000 ini memiliki keunggulan sebagai berikut:
  • Khat Rasm Usmani
  • Standar Kementrian Agama RI
  • Tashih Kementrian Agama RI
  • Ayat pojok
  • Keutamaan amal keseharian berdasarkan referensi yang sahih
  • At-Taghib
  • At-Tarhib
  • Keutamaan surah
  • Tafsir Jalalain
 http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/medina.jpg

Terakhir, Al-Quran New Hijaz A5 tipe HB. 2 terjemah tafsir per kata. Al-Quran ini ukurannya lebih kecil dari Al-Quran Hijaz terjemahan per kata milik saya. Ukurannya hanya 20 x 13.5 cm dengan hard cover, serta kertas khusus Al-Quran. Al-Quran ini dibandrol dengan harga Rp 69.000 saja.

 New Hijaz a5

Bagaimana? tertarik juga untuk memiliki Al-Quran tipe Hijaz dari Syaamil Quran, silahkan pilih serinya sesuai dengan kebutuhan Anda. Pokoke, ingat Al-Quran ingat Syaamil Quran. :)

Meneropong Masalah Krusial Dunia Penerbitan

Bruuugh...!!! Saya, suami , dan anak sulung saya Nai, kaget bukan main, sewaktu mendengar bunyi keras di ruang keluarga. Anak saya yang kedua, yang masih bayi juga tak kalah kaget, sehingga dia langsung menangis. Suami langsung memeriksa, ada apakah gerangan?, karena posisi kami saat itu sedang berada di dalam kamar. Ternyata oh ternyata, bunyi keras itu berpusat pada salah satu rak buku kami yang ada di rumah. Salah satu papan penyangganya lepas, akibatnya buku yang ada di papan itu lengser, tapi tidak sampai keluar dari pintu kacanya.

Yessss...! Lho, kok malah senang? hehehe... itu artinya, saya bisa minta rak buku baru lagi kepada suami. Rak buku yang itu tentu sudah nggak kuat menampung buku lebih banyak lagi. Kapasitasnya hanya untuk satu deretan, sementara saya sudah menyusun bukunya sampai dua deretan. Sementara rak buku yang lain juga penuh. Sambil bercanda, suami bilang, "bukan beli rak buku baru Mi, tapi nggak beli buku baru lagi."

Oooooh... tidaaaaak! Itu tidak mungkin! (lebay ala sinetron). Sekali lagi saya katakan, bahwa saya lebih baik nggak beli baju, tas, dan sepatu baru, daripada nggak beli buku baru. Saya tahu suami cuma bercanda, karena dia sendiri juga nggak mungkin bisa untuk nggak beli buku baru walaupun minimalnya dalam sekali sebulan. Kami, keluarga yang cinta buku, cinta membaca, dan cinta menulis.

Rak Buku yang Rusak karena Kelebihan Kapasitas

Kami memang memiliki budget khusus untuk belanja buku. Nah, sebenarnya buku apa saja sih yang kami beli, ada kriteria atau pertimbangan khusus nggak?, oh tentu saja ada. Kalau suami saya, karena dia seorang dosen dan konsultan, dia biasa membeli buku-buku penunjang perkuliahan atau yang berkaitan dengan pekerjaannya. Untuk buku lain, suami menyerahkan sepenuhnya kepada saya, paling dia hanya menyebutkan tema yang ingin dibacanya. Jadi, saya yang lebih banyak memilih buku bacaan. 

Sebelum berangkat ke toko buku, biasanya saya sudah merencanakan buku apa yang akan saya beli. Mulai dari jenis buku, fiksi atau non fiksikah, sampai tema, dan penulisnya. Saya jabarkan satu per satu yaaaa... :)

Buku Fiksi

Saya jarang sekali membeli buku fiksi, jadi buku fiksi yang saya punya tidak banyak dibandingkan dengan buku non fiksi. Untuk fiksi, seperti novel, biasanya yang menjadi pertimbangan saya untuk membelinya adalah:
  • Penulisnya. Biasanya, saya membeli dengan melihat siapa dulu penulisnya, apakah namanya sudah familiar atau belum. Nah, berhubung saya tergabung di dalam beberapa komunitas menulis yang ada di dunia maya, jadi saya punya banyak referensi di sana. Bahkan, banyak penulis novel yang akhirnya bisa saya kenal langsung. Sedikit banyak, saya jadi tahu genre novelnya, gaya khas penulisannya, dan idealismenya. Asyiknya lagi nih, kalau beli langsung sama penulisnya, bisa dapat diskon dan tanda tangan (pas promo) hehehe...
  • Resensi/review. Sekarang, kita bisa melihat banyak sekali resensi/review buku, baik di website khusus seperti goodreads, maupun website/blog personal para pecinta buku. Itu juga jadi pertimbangan saya dalam membeli buku fiksi. Setidaknya, saya dapat gambaran dari isi bukunya.
Udah, segitu saja untuk buku fiksi alias novel. Bagaimana dengan cover?, blurb/sinopsis?, label best seller?, dan penerbitnya?. Itu tidak menjadi pertimbangan utama saya. Mengapa demikian?, karena dulu saya sering kecele pas beli novel. Ceritanya begini, saya lagi pengen beli novel untuk refreshing. Pas udah di toko buku, saya pilah-pilih novel, yang saya lihat pertama kali tentu cover dan judulnya, lalu membaca blurb/sinopsisnya. Saat menemukan yang saya rasa cocok, saya langsung memboyongnya ke kasir. Tapi sesampainya di rumah, setelah saya membaca ceritanya, saya sungguh kecewa karena novel tersebut sangat jauh dari ekspektasi saya. Padahal judulnya keren, covernya apik, blurb/sinopsisnya manis, bahkan ada label pemenang dari sebuah lomba novel yang diadakan oleh penerbitnya. Sama sekali tidak terdapat hal yang mencurigakan.

Eh ternyata ada muatan-muatan negatif di novel itu dan sangat minim pesan moralnya. Bahkan, di novel tersebut menceritakan bayak sekali penyimpangan seperti, kisah tokohnya yang gay/lesbian, kebiasaan seks bebas, bunuh diri, dll. Widiiiiih... saya merinding membacanya. Padahal, pecinta novel itu banyak sekali dari kalangan pelajar. Itu tentu saja bisa merusak mental dan pikiran mereka, setidaknya akan ada anggapan bahwa penyimpangan-penyimpangan tersebut sudah menjadi hal yang biasa, parahnya kalau ada yang sampai terinspirasi dari novel tersebut.

Sejak itu, saya kapok!. Saya tidak mau memiliki koleksi buku bacaan yang ada penyimpangan seperti itu, karena saya tidak ingin anak-anak saya kelak ketika sudah bisa membaca, ia membaca buku-buku yang menurut saya tidak layak. Terlebih buku koleksi Umminya sendiri. Jadi, buku tersebut saya berikan kepada teman saya di luar kota, yang penasaran dengan cerita novel tersebut.

Baiklah, itu tadi sepintas tentang pengalaman saya saat membeli buku fiksi. Bagaimana dengan buku non fiksi?. Biasanya, saya membeli buku non fiksi berdasarkan kebutuhan, baik kebutuhan akan pengetahuan yang dapat saya aplikasikan sehari-hari, maupun kebutuhan akan referensi bacaan sebagai bahan bakar saya untuk menulis. Berikut pertimbangannya:
  • Penulis. Tetap menjadi hal yang utama buat saya, karena ada penulis yang memiliki brand tertentu, misalnya penulis buku parenting, penulis buku agama, penulis buku motivasi, penulis buku resep, dll.
  • Isi buku. Berbeda dengan buku fiksi yang sampulnya tidak boleh dibuka, untuk buku non fiksi, disediakan buku yang sampulnya sudah dibuka. Jadi, saya bisa bebas untuk melihat isinya. Pertama-tama, saya akan melihat daftar isi buku tersebut apakah sudah sesuai dengan yang saya butuhkan, kemudian baru melihat beberapa halaman untuk mengetahui bagaimana font dan spasinya apakah nyaman saat dibaca, dan melihat gaya penulisannya.
  • Penerbit. Kenapa penerbit?, ini lebih kepada pengalaman membaca saya saja. Saya sudah mengetahui bagaimana ciri khas/kriteria buku yang diterbitkan oleh beberapa penerbit.
Udah, cuma itu saja. Untuk cover, tidak menjadi pertimbangan utama saya. Blurb/sinopsis juga tidak begitu penting karena buku tersebut dapat langsung saya buka dan baca. Mengenai harga? tidak masalah selama itu masih bisa saya jangkau, kalau budgetnya nggak cukup yah nabung dulu :)

Nah, kalau ditanya bagaimana pendapat saya tentang masalah yang paling krusial dalam dunia penerbitan buku di Indonesia, menurut saya adalah organisasi yang membawahi penerbitan, penerbit, buku yang diterbitkan, dan masyarakat Indonesia. Lha, semuanya? iya, semuanya. Karena komponen-komponen tersebut tidak bisa dipisahkan. Organisasi yang membawahi penerbitan menurut saya harus memiliki idealisme, berperan aktif dalam membina penerbit-penerbit yang menjadi anggotanya, menjadi regulator. Demikian juga dengan penerbit-penerbit, hendaknya memiliki idealisme tak sekedar bisnis semata, sehingga bisa menerbitkan buku-buku yang berkualitas, yang dapat mengedukasi pembacanya secara positif, sehingga benar-benar berperan dalam mencerdaskan bangsa.

Lalu kenapa dengan masyarakat Indonesia?, ini berhubungan dengan budaya baca tulis masyarakat Indonesia yang masih rendah. Contohnya saja, di perumahan tempat tinggal saya, hanya ada dua rumah yang empunya memiliki rak buku. Tentu saja bukan rak buku pelajaran sekolah punya anak-anaknya yang saya maksud. Rumah itu adalah rumah saya, dan rumah ketua RT (Rukun Tetangga) yang merupakan seorang pengajar dan lulusan Al-Azhar Mesir.

Saat membicarakan tentang buku, beberapa berkilah dengan mengatakan bahwa harga buku mahal-mahal, lebih baik membeli buku pelajaran untuk anak-anak saja. Ada juga yang bilang tidak perlu lagi baca-baca buku karena udah nggak dalam masa pendidikan. Lebih sengit lagi, nggak sempat buat baca-baca buku, pekerjaan dan urusan rumah tangga sudah sangat menyita waktu. Padahal, mereka rata-rata dari kalangan menengah ke atas. Bagaimana anak-anak akan mencintai baca tulis bila tak ada teladan, dan bagaimana bisa pengetahuan semakin bertambah tanpa buku, yang merupakan jendela dunia. Lewat televisi? Internet?, bisa jadi asal tak banyak digunakan untuk menonton sinetron atau ber ha ha hi hi... berselancar ria di sosial media. Tapi, menurut saya, tetap bukulah sumber yang terbaik.

Jadi, bisa dibayangkan bahwa tidak ada yang tertarik untuk meminjam buku kepada saya, sekalipun rak buku besar ada di ruang tamu kami. Itu baru di sekitar saya, belum lagi di daerah lain. Bagaimana dengan di daerahmu?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #PameranbukuBdg2014 bersama IKAPI JABAR dan Syaamil Quran.








IKAPI Oh IKAPI

IKAPI Oh IKAPI. Yaaaa, saya memang sempat bengong pas tahu tema hari kelima di lomba blog #PameranBukuBdg2014 yang ditaja oleh Syaamil Quran dan IKAPI JABAR. Maklum saja, sebagai anak baru yang masih sangat meraba dunia kepenulisan, selama ini saya kurang familiar dengan IKAPI. Saya hanya sering melihat tulisan IKAPI ada di di lembaran pertama dalam buku setelah cover, termasuk di buku saya. Di sana tertulis keterangan anggota IKAPI di bawah nama penerbit dari buku tersebut. Mungkin Anda juga pernah membacanya.

 Penerbit yang menerbitkan buku duet saya
anggota IKAPI

Penerbit lain yang tergabung di IKAPI

Nah, karena pengetahuan saya yang terbatas, apalagi tema kali ini tentang IKAPI, maka ini kesempatan saya juga untuk mengenal IKAPI lebih dalam. Ternyata eh ternyata IKAPI yang merupakan akronim dari Ikatan Penerbit Indonesia ini telah ada sejak 64 tahun yang lalu. Ya ampuuuun... kenapa saya baru tahu sekarang yaaaa. IKAPI yang merupakan asosiasi profesi penerbit satu-satunya di indonesia yang menghimpun para penerbit buku dari seluruh Indonesia ini berdiri sejak 17 Mei 1950 di Jakarta. Pelopor dan inisiatornya adalah Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, dan Nyonya A. Notosoetardjo. Kerennya lagi nih, pendirian IKAPI didorong oleh semangat nasionalisme setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Awalnya nih, ada 13 penerbit buku yang tergabung di dalam IKAPI, terhitung tahun 2013 anggotanya sudah mencapai 1126. Wah, yang bikin saya makin kaget, ternyata di Riau tempat saya bermukim saat ini, ada cabang/perwakilan IKAPI dengan jumlah anggota 8 orang. Kemana saja yah saya selama ini, kenapa baru tahu sekarang??? Eits... tapi lebih baik tahu terlambat daripada tidak sama sekali. Lagipula, IKAPI memang tidak terdengar gaungnya di sini. Mungkin teman-teman di kota lain, sekalipun tidak begitu mengenal IKAPI tapi pernah menghadiri pameran buku yang ditaja oleh IKAPI. Di kota saya, jangan ditanya, ceritanya ada di tema hari pertama tentang pameran buku.

(Anggota IKAPI, Riau ada 8 orang)

Sebenarnya apa sih visi dan misi IKAPI? Bagaimana sepak terjangnya selama ini. Yuuuuk baca tulisan ini sampai tuntas :)

Menjadikan industri penerbitan buku di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan dapat berkiprah di pasar internasional.

Ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui upaya penciptaan iklim perbukuan yang kondusif, pengembangan sistem perbukuan yang kompetitif, dan peningkatan profesionalisme asosiasi serta para anggotanya sehingga perbukuan nasional mampu berperan secara optimal demi mempercepat terbentuknya masyarakat demokratis terbuka dan bertanggung jawab.
 
Lalu kegiatannya apa saja, banyaaaaak!. Untuk even, ada banyak even yang diadakan oleh IKAPI mulai dari seminar, kelas menulis, kursus penulisan-penerbitan, dan juga kerjasama dalam pameran buku (IKAPI JABAR).

Lantas, peran apa saja yang diharapkan dari IKAPI dalam mengembangkan baca tulis?.
Peran aktif! iya, peran aktif yang benar-benar dilakukan secara massif, terstruktur, dan sistematis (hehehe...). Gaungkan IKAPI sampai ke pelosok negeri, karena selama ini hanya ada beberapa organisasi kepenulisan yang lebih terdengar gaungnya. Jadi, tidak hanya mengadakan even di kota-kota tertentu saja, tapi hendaklah menjangkau kota-kota lainnya, setidaknya kota yang terdapat cabang atau perwakilan dari IKAPI. Agar minat membaca dan menulis masyarakat semakin tinggi. Masuk ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan instansi lainnya. Manfaatkan the power of sosmec agar masyarakat semakin mengenal luas IKAPI.

Tidak hanya masyarakat, orang yang baru saja mencoba untuk menceburkan diri dalam dunia kepenulisan seperti saya ini, juga butuh pengetahuan lebih tentang peran IKAPI, terutama setelah melihat fenomena di dunia penerbitan, seperti ada penerbit yang menerbitkan buku yang isinya tidak sesuai dengan segmen pembaca maupun budaya yang ada di Indonesia, ada persengketaan yang terjadi antara penerbit dan penulis (mis, royalti), fenomena buku yang masa tayang di toko buku begitu cepat, sehingga banyak buku baru yang cepat diobral, dll. Somoga IKAPI bisa menjadi jembatan bagi permasalahan-permasalahan yang ada di dunia penerbitan.

Nah, kalau berandai-andai nih, apabila saya menjadi salah satu pengurus di IKAPI, maka reformasi yang akan saya lakukan adalah bersinergi dengan seluruh pemerintah daerah, untuk mengadakan program-program yang mengedukasi masyarakat akan manfaat dari membaca dan menulis. Bahkan, ikut berpartisipasi dalam mengentaskan buta aksara. Gimana mau semangat baca tulis, kalau masih banyak masyarakat di pelosok-pelosok negeri masih buta aksara. Caranya, Ada perpustakaan desa, bahkan kalau perlu perpustakaan RW (Rukun Warga), IKAPI membentuk relawan, mengadakan even secara rutin yang berhubungan dengan baca tulis (perlombaan, seminar, talkshow, pelatihan, dll), merangkul pihak swasta agar semakin banyak dukungan dan partisipasi dari masyarakat.


Apalagi yaaaaa....
 
 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #PameranBukuBdg2014 bersama IKAPI JABAR dan Syaamil Quran.
 
 
 
 
 
 
 
 

Gadget Makin Mantap

Saat ini, banyak sekali hadir teknologi yang memudahkan manusia, terutama yang berhubungan dengan sistem informasi, yaitu komputer, komunikasi, dan multimedia. Dengan perkembangan konvergensi ketiga teknologi tersebut, telah membuat muatan informasi atau pesan dalam komunikasi menjadi semakin beragam. Era digital, begitulah kebanyakan orang menyebut kondisi saat ini. Nah, kalau ngomongin era digital, tentunya kita udah familiar banget dengan yang namaya gadget.

Gadget, yaitu objek teknologi yang memiliki fungsi tertentu, yang mana teknologi tersebut selalu mengalami pembaharuan dan perkembangan. Jadi, selalu ada hal yang semakin baik dari teknologi sebelumnya. Gadget ini, tidak hanya dalam artian bentuk fisik seperti telepon genggam (handphone), laptop/notebook/netbook/tablet, PSP, kamera, dll. Tapi, gedget juga berkembang dalam artian bentuk visual sofeware, yaitu fitur yang memudahkan kegiatan manusia (Teknopedia).

Berbeda dengan suami saya, saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang gadget. Saat menggunakan gadget, saya hanya melihat konten yang saya butuhkan saja, sekalipun tampilan gadget juga merupakan penilaian tersendiri bagi saya. Saya menggunakan laptop, spesifikasinya terserah suami, yang terpenting saya bisa mengetik, bisa akses internet, bisa lihat muka suami kalau dia lagi di luar kota (webcam), dan bisa mengunduh program-program edukatif untuk anak saya Nai. Tampilannya, saya memilih yang layar 10 inci dan tipis. Jadi, gampang untuk saya bawa kemana-mana.

Untuk telepon genggam (handphone), saya menggunakan telepon genggam yang fiturnya sederhana, yang penting bisa telepon dan sms. Nah, untuk bisa akses internet secara bebas dan bisa menggunakan aplikasi Al-Quran, saya menggunakan smartphone blackberry. Ribet sih, karena jadi terpaksa membawa 2 gadget sekaligus saat bepergian. Bukan salah gadgetnya, hanya saja saya memakai simcard yang berbeda, karena ada yang murah buat telepon dan sms tapi mahal buat akses internet, maupun sebaliknya.

Tapi yaaaa, di rumah saya ada banyak jenis telepon genggam (handphone). Itu semua kerjaannya suami, dia selalu saja tergiur dengan fitur terbaru. Saya selalu gagal paham, bagi saya yang terpenting adalah fungsi. Apalagi, menurut saya, itu pemborosan. Terlebih, suami juga memberikan putri kecil kami Nai, yang berusia 5 tahun, sebuah tablet. Alasannya, biar Nai bisa memainkan mainan edukatif dan menonton film yang didownload langsung dari internet, seperti seri Diva, seri Nadia dan Syamil, upin-ipin, dll (Nai dilarang nonton TV).

gadget di rumah 
 
Kalau ditanya, manakah yang dibutuhkan antara gadget dengan konten, atau keduanya, maka saya pribadi akan memilih keduanya, gadget dan konten. Saya akan memilih gadget yang memiliki konten yang banyak, yang sesuai dengan yang saya butuhkan, seperti penjelasan di atas tadi, dan gadget yang memiliki penampilan elegan yang mudah juga untuk dibawa kemana-mana.

Bagi saya, tidak masalah untuk membeli gadget yang sudah bundling dengan kontennya. Asalkan, ya itu tadi, bisa mengcover semua kebutuhan saya akan komunikasi dan informasi. Jadi, saya cukup memiliki 1 gadget. Tak kalah penting juga, bagi orang yang termasuk malas untuk mengisi ulang baterai seperti saya, maka dibutuhkan gadget yang baterainya bisa tahan lama.

Belakangan ini, saya mendapatkan informasi mengenai teknologi baru yang dapat semakin memudahkan kita untuk mendapatkan panduan dalam menjalani ibadah dan dakwah, yaitu inovasi terbaru dari Syaamil Quran. Syaamil Quran adalah salah satu penerbit Al-Quran yang ada di Indonesia, kini memiliki Syaamil digital, salah satu produknya adalah Syaamil Note. Wah... wah... wah... makin kece aja nih. Apalagi spesifikasi Syaamil notenya juga mantap. Ditambah dengan aplikasi lengkap yang sesuai banget untuk umat muslim dalam pempelajari dan memperdalam ilmu agama.

Saat saya mendiskusikan Syaamil note bersama suami, suami langsung bilang, "Wah, kalau punya ini, abi nggak beli atau gonta-ganti gadget lagi aaaah". Yeaaay.... semoga saja!


 Syaamil Note, Smartphone Islami Terlengkap dari Sygma CMC

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #PameranBukuBdg2014 bersama IKAPI JABAR dan Syaamil Quran

Al-Quran Komplit plit...

 Al-Quran di rumah kami

Bacalah Al-Quran, sesungguhnya Al-Quran itu akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafaat bagi orang yang membacanya (HR. Muslim)

Sebagai umat muslim, Al-Quran itu harus ada. Minimal setiap rumah punya satu Al-Quran. Tapi, bagi saya dan suami, satu Al-Quran tidak cukup. Selain sulit buat gantian, kami butuh Al-Qur'an yang berbeda di saat pengajian. Ada berbagai jenis Al-Quran, dengan keistimewaannya. Maksudnya, ibarat telepon genggam, Al-Quran juga punya fitur yang berbeda-beda. Nah, Al-Quran yang bagaimana yang biasa kami gunakan? berikut uraian lengkapnya, baca tuntas yaaaa... siapa tahu bisa jadi referensi buat Anda.

Dulu, sewaktu indra penglihatan masih baik, masih belum butuh bantuan kacamata, saya dan suami membawa Al-Quran mungil kemana-mana. Bentuknya yang mungil, sangat gampang untuk dibawa, bahkan bisa dimasukkan ke dalam saku. Tapi, ya itu tadi, bagi yang memiliki masalah pada mata, akan kesulitan untuk menggunakannya. Al-Quran ini juga tidak disertai dengan terjemahan, hanya ayat-ayat saja.


Al-Quran pertama yang kita punya, tentu sangat berkesan. Al-Quran bersampul warna emas yang mengkilap ini adalah Al-Quran pertama saya, pemberian orang tua. Diberikan sewaktu saya kecil saat saya pertama kali khataman. Rasanya sangat senang akhirnya bisa punya Al-Quran sendiri, tidak menggunakan Al-Quran milik Ibu lagi. Al-Quran ini tanpa terjemahan, tanpa keterangan ayat dan huruf disetiap ayatnya sangat rapat. Al-Qur'an ini sudah jarang saya gunakan. Selain lembaran kertasnya sudah menguning, Al-Quran yang mirip Al-Quran yang biasa digunakan sebagai mas kawin jaman dulu ini, sudah terasa kurang nyaman, karena hurufnya yang rapat tadi.

 Al-Quran Pertama

Jadi, untuk Al-Quran tanpa terjemahan yang kami gunakan adalah Al-Quran di bawah ini. Al-Quran yang diberikan saat saya belajar di rumah tahfiz, untuk menghapal Al-Quran. Dalam setiap lembaran, disusun hanya 10 ayat saja, dengan spasi yang tidak terlalu rapat. Jadi, nyaman untuk dibaca dan memudahkan juga saat menghapalnya.

 Al-Quran tanpa terjemahan

Lanjuuuuut yaaaa.... Kalau yang di bawah ini, Al-Quran yang ada terjemahannya, juga dilengkapi dengan keterangan ayat. Kalau soal susunan ayat dan spasinya, udah oke banget. Istimewanya, Al-Quran ini edisi 1000 doa. Jadi, ada doa-doa yang berhubungan dengan surat yang dibaca. Al-Quran ini lumayan besar ukurannya, jadi biasanya cuma digunakan saat di rumah saja.

 Al-Quran Edisi 1000 Doa

Selanjutnya, Al-Quran yang diberikan oleh suami tercinta. Al-Quran ini didesain khusus untuk wanita. Kertasnya dibuat warna-warni. Al-Quran ini dilengkapi dengan terjemahan, asbabun Nuzul, hadis seputar ayat, hikmah, dan juga indeks tematik yang memudahkan kita untuk menemukan ayat-ayat yang kita butuhkan, misalnya yang berhubungan dengan zakat, pernikahan, hukum, dll.  Al-Quran ini dilengkapi juga dengan pedoman transliterasi Arab-Latin, ada delapan warna yang digunakan untuk menjelaskan hukum-hukum tajwid. Jadi, bisa dibilang, Al-Quran ini yang paling sering saya bawa kemana-mana, baik sewaktu pengajian tahsin, maupun saat mengisi acara seminar. Ukurannya tidak terlalu besar dan memiliki ketebalan yang sedang. Pas dimasukkan ke dalam tas yang biasa saya gunakan.


 Al-Quran Khusus Wanita


Nah... nah... nah... Terakhir nih, Al-Quran favorit saya dan suami. Al-Quran ini diproduksi oleh Syaamil Quran, Al-Quran terjemahan perkata, type Hijaz. Al-Quran ini selalu dibawa saat mengikuti pengajian tafsir. Al-Quran ini dilengkapi dengan daftar nama surat, klasifikasi ayat-ayat Al-Quran (indeks tematik), dan keterangan tanda-tanda baca. Bahkan, di kertas pembatas halamannya ada jadwal waktu shalat, keterangan tentang tanda-tanda waqaf, dan doa sujud tilawah. Seandainya Al-Quran ini memiliki ukuran yang lebih kecil, tentu bisa muat ke dalam semua tas yang saya punya, karena kebanyakan tas saya berukuran tidak terlalu besar. Jadi, saat membawa Al-Quran ini, saya terpaksa harus menggunakan tas khusus.

 Al-Quran Terjemahan Perkata
Syaamil Quran Type Hijaz

 Produksi Syaamil Quran

Penerbit Syaamil Quran

Baiklah, saya sudah ulas semua Al-Quran yang biasa kami gunakan sehari-hari. Kalau ditanya Al-Quran seperti apa yang saya butuhkan, maka saya butuh Al-Quran yang bisa mengkolaborasikan keunggulan dari berbagai jenis Al-Quran yang saya miliki di atas, yaitu:
  • Al-Quran terjemahan yang ada terjemahan perkata,
  • Al-Quran dilengkapi asbabun Nuzul, hadis seputar ayat, hikmah, indeks tematik, ada doa, dan hukum-hukum tajwid yang diberikan warna-warna yang berbeda.
  • Ukurannya tidak terlalu besar
  • Menggunakan kertas yang berwarna-warni sesuai juznya
  • Di dalamnya juga dilengkapi bacaan tentang keutamaan membaca Al-Quran, adab dalam membaca Al-Quran, dan jadwal waktu shalat. Ada panduan ibadah sehari-hari lainnya seperti shalat, puasa, zikir, dan zakat, bahkan haji.
  • Ukuran ayat dan spasinya pas, nyaman untuk dibaca dari berbagai kalangan usia, baik muda, maupun tua.
Waaaah... itu namanya paket komplit yah. Semoga saja Syaamil Quran bisa mewujudkannya, karena Syaamil Quran salah satu penerbit Al-Quran yang selalu berinovasi sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntutan kebutuhan. Produk-produk Syaamil Quran juga bagus. Apalagi sekarang ada Syaamil digital, pasti super lengkap, ada panduan ibadah harian, seperti shalat, zikir, dan doa. Di era digital saat ini, Al-Quran digital juga sangat dibutuhkan, agar generasi muda yang sudah sangat akrab dengan gadget semakin bersemangat untuk membaca Al-Quran dan memperdalam ilmu agama. Jadi, bisa dikatan Syaamil Quran sebagai pelopor!.

Hmmmm... bingung deh, Al-Quran seperti apa yah yang belum pernah ada di Indonesia?, yang versi cetak sudah bervariasi, yang menggunakan e-pen juga ada, yang digital apalagi. Bagaimana menurutmu?.

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/hishna.jpg 
(Naksir Al-Quran ini) 

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/brosur-syaamildigital-A5-01.jpg
(Yang ini, naksiiiiir pake banget)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #PameranBukuBdg2014 bersama IKAPI JABAR dan Syaamil Quran